Monday, February 5, 2018

PAHLAWAN JAMBI - BESERTA BIOGRAFINYA



        Assalamualaikum Sobat bloger , jumpa lagi dengan saya , tak bosanya saya menyapa sobat , saya berharap sobat juga tidak bosan mengujungi blog saya yang masih jauh dari kata sempurna ini , ok sobat kali ini saya akan memposting tentang Pahlawan Jambi di sertai Biografinya , Mungkin anak-anak sekolah jaman sekarang tidak begitu hafal nama-nama pahlawan yang ada di Jambi , padahal nama-nama pahlawan tersebut sudah di abadikan , contohnya saja  nama rumah Sakit umum yang ada di jambi yaitu Rmah Sakit Umum Raden Mattaher  dan bandara Internasional Sultan Thaha . oleh sebab itu di kesmpatan kali ini saya akan menjelaskan beberapa nama-nama pahlawan jambi beserta biografinya  , untuk kalian yang sedang mencari tugas sekolah boleh saja untuk mengcopy nya tapi jangan lupa sobat untuk membacanya agar sobat tahu betapa gigihnya pahlawan jambi dalam memperjuangkan kemerdekaan  tanah air kita .Ok sobat langsung saja simak ulasan dibawah ini.


1.    Sultan Thaha Syaifuddin
www.blogger-jaman-now.blogspot.com

Sultan Thaha Syaifuddin (Jambi, 1816 - Betung, 26 April 1904) adalah sultan terakhir dari Kesultanan Jambi. merupakan pahlawan nasional asal Jambi yang dilahirkan pada pertengahan tahun 1816 di Keraton Tanah Pilih Jambi. Ia merupakan putra dari Sultan M. Fachrudin dengan gelar sultan Kramat. Nama asli Sultan Thaha adalah Sultan Raden Toha Jayadiningrat. Ketika kecil ia biasa dipanggil Raden Thaha Ningrat. Meskipun ia terlahir dari kalangan bangsawan, ia memiliki sikap yang rendah hati, senang bergaul dengan masyarakat dan sangat membenci Belanda. Aktivitas melawan Belanda makin gencar sejak ia naik tahta menjadi Raja Jambi pada tahun 1855. Usahanya melawan Belanda dilakukan dengan mengalang kekuatan masyarakat dan berkerjasama dengan raja Sisingamangaraja.
Tahun 1841 ia diangkat sebagai Pangeran Ratu (semacam perdana menteri) di bawah pemerintahan Sultan Abdurrahman. Sejak itu, ia memperlihatkan sikap menentang Belanda. Ketika sebuah kapal dagang Amerika berlabuh di pelabuhan Jambi, ia berusaha mengadakan kerja sama dengan pihak Amerika.
Sultan Thaha Syaifuddin tidak mengakui perjanjian yang dibuat oleh  sultan-sultan terdahulu dengan Belanda. Salah satu diantaranya perjanjian tahun 1833 yang menyatakan Jambi adalah milik Belanda dan dipinjamkan kepada Sultan Jambi. Belanda mengancam akan memecatnya, akibatnya hubungannya dengan Belanda tegang. Karena sudah memperkirakan Belanda pasti akan menggunakan kekuatan senjata, maka Sultan Thaha pun memperkuat pertahanan Jambi. Belanda mengirim Residen Palembang untuk berunding dengan Sultan Thaha. Perundingan itu gagal. Sesudah itu, Belanda menyampaikan ultimatum agar Sultan Thaha menyerahkan diri. Karena Sultan Thaha menolak ultimatum, pada 25 September 1858 Belanda melancarkan serangan. Pertempuran berkobar di Muara Kumpeh. Pasukan Jambi berhasil menenggelamkan sebuah kapal perang Belanda, namun mereka tidak mampu mempertahankan kraton. Sultan Thaha menyingkir ke Muara Tembesi dan membangun pertahanan di tempat ini. Perang utama sudah berakhir, tetapi perlawanan rakyat berlangsung puluhan tahun lamanya. Sultan Thaha membeli senjata dari pedagang-pedagang Inggris melalui Kuala Tungkal, Siak dan Indragiri. Rakyat dianjurkan agar tetap mengadakan perlawanan.
Pada 1885 mereka menyerang sebuah benteng Belanda dalam kota Jambi, sedangkan pos militer Belanda di Muara Sabak mereka hancurkan. Karena itu, Belanda meningkatkan operasi militernya. Pasukan bantuan dalam jumlah besar didatangkan dari Jawa. Belanda mendatangkan pasukan dari Magelang lewat Semarang dan Palembang. Pada tanggal 31 luli 1901 pasukan Belanda yang datang mendapatkan perlawanan sengit di Surolangun. Namun, pasukan Belanda terus mengadakan pengejaran sampai ke pedalaman. Mereka berhasil menawan pasukan dan pengikut Sultan Thaha. Pada tahun 1904, Belanda melakukan penyerbuan dan berhasil menyergap pasukan Sultan Thaha di dusun Betung Berdarah. Dalam penyerbuan itu, Sultan Thaha wafat dalam usia ke 88. Jasadnya dikebumikan di Muara Tebo yang kini dijadikan sebagai Makam Pahlawan Nasional Sultan Thaha Syaifuddin.
Thaha Sjaifuddin diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 24 Oktober 1977  dengan Keppres No. 79/TK/1977. Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Jambi.

2.    Kolonel Abunjani 

http://www.blogger-jaman-now.blogspot.com

Kolonel Abunjani lahir di Batang Asai, kabupaten Sarolangun-Bangko (sekarang dipecah menjadi kabupaten Sarolangun dan Merangin) pada tanggal 24 Oktober 1918. Abunjani merupakan anak seorang demang yang berkedudukan di Rantau Panjang, Batang Asai yang bernama Demang Makalam. Demang Makalam berasal dari Pondok Tinggi, Kerinci, sedangkan ibunya bernama Siti Umbuk berasal dari Desa Keladi.
Abunjani merupakan anak keempat dari 5 bersaudara dengan urutan sebagai berikut: Siti Rodiah, M. Kamil, Siti Raimin, dan adiknya M. Sayuti.
a.    Pendidikan
Karena kedudukan ayahnya, Abunjani kecil berkesempatan untuk mencicipi bangku sekolah Formal. Pada usia 8 tahun Abunjani bersama kakaknya, M. Kamil, dikirim ke Jambi untuk bersekolah di bawah asuhan Ali Sudin (keponakan Makalam) yang saat itu (1926) telah bekerja sebagai jurutulis (klerk) di kantor Kontrolir Jambi. Dengan beberapa pertimbangan, Makalam menitipkan kedua anaknya pada temannya yang berkebangsaan Belanda yang bekerja di BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij). Oleh karena itu tidak mengherankan apabila M. Kamil dan Abunjani mahir berbahasa Belanda.
Secara berturut-turut, tahun 1931 Abunjani berhasil menamatkan pendidikan di Hollandsc-Inlandsche School (HIS) selama 7 tahun dan tahun 1934 menamatkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Bandung. Pada 1940 Abunjani mengikuti pendidikan di Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaar (MOSCVIA) di Bandung, tetapi tidak tamat karena berlangsungnya pendudukan Jepang.
Pada masa pendudukan Jepang ini Abunjani menamatkan pendidikan di Shonan Kao Kun Renjo (Sionanto) di Singapura selama 1 tahun. Abunjani kemudian diangkat sebagai asisten Ki Imuratyo. Pendidikan militer ini kemudian diteruskan ke akademi militer Giyugun di Pagaralam, Lahat dengan pangkat tamatan Letnan Dua (Shoi). Alumni pendidikan Angkatan Darat (Kanbu Kyoyiku tai) Jepang ini merupakan cikal bakal tentara nasional di masing-masing daerahnya. Abunjani sebagai Sudantyo Giyugun dari tahun 1942-1945 yang mempunyai kemampuan bahasa Belanda, Inggris, Jepang sangat berguna dalam kiprahnya di dunia bisnis selepas menanggalkan karir militernya.

b.    Peran Abunjani Di Masa Awal Kemerdekaan
Karir militer Abunjani dimulai pasca kemerdekaan. Pada 22 Agustus 1945 Abunjani merintis terbentuknya  Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR nantinya menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya Abunjani diangkat sebagai komandan BKR daerah Jambi dengan jabatan Kolonel. Hingga tahun 1949, jabatan Kolonel Abunjani adalah komandan Kodam Garuda Putih Jambi.
Adanya kebijakan rasionalisasi di kalangan TNI, pangkat Kolonel Abunjani diturunkan menjadi Letnan Kolonel. Walaupun demikian, Letnan Kolonel Abunjani tetap di militer dengan jabatan rangkap sebagai Wakil Gubernur Militer Sumatera Selatan khusus daerah Jambi, juga sebagai Komandan STD sampai pertengahan Januari 1950.Terhitung Februari 1950 Letnan Kolonel Abunjani mengundurkan diri dari TNI beralih profesi menjadi seorang pengusaha di Jambi dan Jakarta.
Salah satu peran Abunjani dalam menunjang perjuangan di masanya adalah membentuk Badan Keuangan Perjuangan yang memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10% keuntungan untuk perjuangan. Usaha tersebut selain dapat membantu perjuangan Pemerintah Pusat, sewa-beli
Pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan, juga memasok perlengkapan dan perbekalan pasukan dengan sistem barter komoditi lada, vanili, karet, dan lain-lain.
Peran yang perlu dicatat kepemimpinan Letnan Kolonel Abunjadi adalah memindahkan pusat pemerintahan dan pertahanan militer saat serangan Belanda pada 29 Desember 1948. Bersama dengan Rd. Inu Kertapati dan M. Kamil mengungsi ke pedalaman, tetapi terhenti di Sengeti. Rd. Inu Kertapati kembali ke Jambi untuk menenangkan keluarga dan masyarakat kota Jambi oleh bombardir pesawat dan serangan tentara Belanda melalui Kenali Asam dan Palmerah. Pada 1 Januari 1949 terbitlah surat kuasa Residen Jambi Rd. Inu Kertapati kepada M. Kamil, Bupati Jambi Hilir untuk meneruskan Pemerintahan Darurat Keresidenan Jambi. Dalam rapat antara unsur pemerintah dan militer di Tebo menghasilkan keputusan bahwa H. Baksan yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jambi Ulu sebagai Residen Pemerintah Darurat Keresidenan Jambi dan Pusat Komando Militer dipindahkan ke Bangko. Walaupun mengalami berbagai gempuran, perjuangan dan pemerintahan darurat berjalan sebagaimana mestinya.

c.    Penghargaan
Nama besar Abunjani dijadikan nama jalan di kota Jambi dan beberapa kota lain. Di Bangko, namanya dijadikan nama rumah sakit umum karena beliau memang lahir di Batang Asai yang dulu merupakan bagian kabupaten Sarolangun-Bangko.
Rumah Kolonel Abundjani masih bisa dilihat hingga sekarang. Rumah itu sekarang dihuni oleh anak-anak sang kolonel. Letaknya sangat dekat dengan pusat pemerintahan provinsi Jambi. hanya beberapa langkah dari kantor pajak baru Jambi. Persis di belakang kantor pusat Bank Jambi.

d. Wafat
Kolonel Abujani Wafat pada tanggal 26 april 1904  

3.    Depati Parbo Pahlawan Kerinci 

Depati Parbo adalah seorang pahlawan Kerinci yang turut berjuang melawan penjajah Belanda. Namanya diabadikan menjadi nama jalan protokol yang menghubungkan kota Sungai Penuh dengan kecamatan Danau Kerinci kabupaten Kerinci. Lalu dipakai sebagai nama bandara perintis di Kerinci dan nama salah satu perguruan tinggi di Sungai Penuh.
Selain itu patung Depati Parbo bisa dijumpai di halaman kantor DPRD Kerinci dan di simpang tiga jalan RE Martadinata, jalan Pancasila dan jalan Depati Parbo di kota Sungai Penuh. Berdiri gagah berani mengenakan baju adat depati dan menghunus keris.
Biografi
Depati Parbo dilahirkan pada tahun 1839 di desa Lolo Kecil, kecamatan Bukit Kerman kabupaten Kerinci. Sekitar 45 menit dari kota Sungai Penuh. Tidak jauh dari jalan raya Jujun-Lempur. Ia terlahir dengan nama Mohammad Kasib, dan menuntut ilmu serta menghabiskan masa kecilnya di desa kelahirannya. Depati Parbo adalah gelar yang disandangnya ketika dewasa karena kecakapannya dalam pendidikan dan adat.
Ayahnya bernama Bimbe, sedangkan ibunya bernama Kembang. Beberapa kajian mendapati bahwa nama sebenarnya Depati Parbo saat kecil adalah Ahmad Karib. Depati Parbo memiliki tiga orang saudara perempuan yang bernama Bende, Siti Makam, dan Likom. Dikabarkan bahwa Depati Parbo atau Karib sejak kecil memiliki berbagai keanehan, antara lain memiliki gigi geraham berwarna kehitaman. Oleh karena itu masyarakat setempat memanggil Karib dengan Germon Besol.
Sebagaimana di kampung lainnya di Kerinci, sebagai seorang remaja Karib juga ikut dan senang belajar bela diri silat serta ilmu agama yang dilengkapi ilmu kebatinan. Setelah dewasa Karib mempersunting seorang gadis bernama Timah Sahara dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ali Mekah. Untuk mengemban tugasnya sebagai seorang suami dan ayah, Karib memilih untuk merantau ke Batang Asai mengikuti jejak sejumlah orang Kerinci merantau bekerja sebagai pendulang emas. Selain ke Batang Asai, Karib juga melanglang buana ke beberapa daerah di Sumatera Selatan, seperti Rawas. Selain mencari nafkah untuk menyambung hidup, beliau juga aktif mencari ilmu bela diri dan kebatinan. Kegiatan ini dilakukannya sejak tahun 1859 hingga 1862.
Sebagai pemuda yang cerdas dan terampil di kampungnya, Karib akhirnya dilantik dan dikukuhkan sebagai seorang depati dalam sebuah upacara tradisional kanduhai sko (kenduri pusako). Karib diberi gelar Depati Parbo. Dengan demikian Karib tidak hanya memikirkan kehidupan keluarganya saja, tetapi sebagai depati beliau juga harus memikirkan masyarakatnya, bahkan hingga ke Kesultanan Jambi.

Ditangkap dan diasingkan
Menurut sejarah, Belanda masuk ke Kerinci lewat Mukomuko (Bengkulu) pada tahun 1900. Mereka menyusuri sungai Manjuto lalu membangun posko di puncak bukit Gunung Raya. Tindakan ini memicu kemarahan rakyat Kerinci. Pertempuran pertama antara rakyat Kerinci melawan Belanda dipimpin oleh Depati Parbo pecah di Manjuto Lempur. Korban banyak berjatuhan di pihak Belanda.
Beberapa kali berperang, akhirnya Belanda berhasil menguasai seluruh wilayah Kerinci pada tahun 1903. Untuk melemahkan perjuangan rakyat, Belanda menipu Depati Parbo dengan membujuknya untuk mengikuti perundingan. Nyatanya beliau ditangkap lalu diasingkan selama 25 tahun ke Ternate, Maluku Utara. Pada tahun 1927 Depati Parbo dibawa pulang ke Kerinci atas permohonan depati-depati mengingat usianya sudah lanjut. Saat itu pergolakan rakyat Kerinci melawan Belanda sudah padam sama sekali.
Depati parbo yang telah lanjut usia hidup  menetap di kampung halamannya di dusun Lolo Kecil. Meski Depati  Parbo telah bebas dari hukuman,.namun  gerak geriknya masih tetap  diawasi dan dicurigai oleh pemerintah kolonial, pernah selama 3 bulan Depati Parbo kembali ditanngkap dan ditahan oleh Belanda di Sungai  Penuh. Penahanan ini dilakukan karena beliau melarang pemerintah   kolonial Belanda membuat jalan pada sawahnya yang menghubungkan dusun Lolo Kecil dengan Talang Kemuning. Namun dakwaan yang diajukan adalah karena beliau telah melakukan Pembunuhan, yang ternyata setelah diselidiki  tuduhan itu fitnah belaka.
Naik Haji
Di usia senjanya beliau tetap semangat untuk menunaikan rukun islam yang kelima. Kembali dari menunaikan  ibadah haji, Depati Parbo mendapat nama ‘Haji Kasian”. Saat menunaikan ibadah Haji beliau telah memasuki usia renta  (Manula) dan karena sudah tua aktifitas beliau hanya melaksanakan ibadah.
Wafat
Pada tahun 1929 Panglima Perang Kerinci” Depati Parbo “menghembuskan nafas terakhir menghadap  Illahi dengan tenang, jenazah beliau dimakamkan  di pemakaman keluarga dusun Lolo Kecamatan Gunung Raya, almarhum dimakamkan bersama sama  dengan jenazah  Istri, putra putri dan sanak keluarganya. Beliau meninggal pada umur 89 tahun.

4.    Raden Mattaher
Gambar Kosong 
( sudah saya usahakan mencari sumbernya tapi belum ada ketemu)

Raden Mat Tahir adalah alah seorang panglima perang Jambi yang sangat terkenal dan ditakuti Belanda. Setelah wafatnya Sultan Thaha Saifuddin pada tahun 1904, komando perlawanan terhadap Belanda di Jambi dilanjutkan oleh Raden Mattaher, yang oleh masyarakat Jambi dikenal sebagai Singo Kumpeh.
Biografi
Raden Mat Tahir dilahirkan di dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, Batin VI, tahun 1871, nama aslnys ialah Raden Mohammad Tahir. Ibunya adalah kelahiran di Mentawak Air Hitam Pauh, dahulunya adalah daerah tempat berkuasanya Temenggung Merah Mato. Ayahnya Pangeran Kusin wafat di Mekkah.
Menurut Raden Syariefs (1969) di dalam bukunya Riwajat Ringkas Tentang Perdjuangan Pahlawan Djambi Raden Mat Tahir Panglima Sultan Thaha, mengatakan bahwa Raden Mat Tahir mempunyai beberapa orang istri antara lain: Siti Esah (Aisah), perempuan keturunan Ratumas Bilis Kumpeh yang berdiam di Merangin, perempuan dalam Sungai Sipintun. Iapun mempunyai beberapa orang anak, antara lain : Raden Buruk, tinggal di Rambutan Temasam; Raden Mataji atau Raden Hamzah tinggal di Jambi; Raden Sulen atau Raden Kusen tinggal di Bogor; Raden Zainal Abidin adalah suami Ratumas Kandi; dan Ratumas Lijah.
Raden Mat Tahir gugur dalam pertempuran melawan Belanda di dusun Muaro Jambi, pada hari Jum’at, waktu subuh, tanggal 10 September 1907. Raden Mat Tahir dimakamkan di komplek pemakaman raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin Jambi, Kabupaten Muara Jambi Kecamatan Maro Sebo.
Setelah Raden Mat Tahir meninggal dunia, dua orang putra Raden Mat Tahir dapat ditangkap Belanda sedang dalam asuhan (masih kecil) yakni Raden Hamzah dan Raden Sulen. Keduanya diserahkan Belanda kepada A. M.Hens, seorang Controleur Muara Tembesi. Tetapi karena controleur itu sedang cuti ke luar negeri, maka kedua anak itu diserahkan Belanda kepada Demang Ibrahim, yakni Demang Muara Tembesi untuk menjaga keselamatannya. Lalu kemudian Demang Ibrahim menyerahkan kedua anak Raden Mat Tahir kepada Residen O,L. Helffrich di Jambi. Oleh Residen O.L.Helffrich kedua anak itu bertempat tinggal di rumah residen, lalu oleh risiden disekolahkan di Olak Kemang dengan biaya ditanggung Belanda. Lalu kedua anak itu oleh Residen O.L.Helffrich dikirim ke Palembang untuk sekolah lebih tinggi. Kemudian pada tahun 1914 kedua anak Raden Mat Tahir itu di kirim oleh Pemerintah Belanda ke Batavia. Sedangkan tiga orang anak Raden Mat Tahir yang belum tertangkap Belanda, diungsikan oleh keluarganya di Malaya (Malaysia).
Perjuangan
Raden Ma Tahir adalah seorang pemuda beranjak dewasa, ia belum memikul suatu jabatan apapun di dalam kerajaan Jambi. Tapi ia telah memperlihatkan sebagai seorang kesatria, berani, cerdas, dan pandai mengatur strategi.
Pasukan Raden Mat Tahir adalah pasukan bergerak dan menyerang secara tiba-tiba. Oleh karena itu pasukan Raden Mat Tahir tidak menempati suatu tempat tetap. Raden Mattaher menamakan pasukannya sebagai Sabillillah. Sebelum pergi melakukan penyerangan atas pasukan Belanda, maka Raden Mat Tahir terlebih dahulu melakukan sholat agar mendapat petunjuk dan ridho Allah.
Saat melawan penjajahan Belanda, Raden Mattaher bertugas sebagai panglima perang yang beroperasi di wilayah Muara Tembesi hingga ke Muara Kumpeh. Dalam berbagai penyerangan, Raden Mattaher dibantu oleh beberapa panglima yakni, Raden Perang, Raden Ahmad, Raden Kusen dan Raden Pamuk. Dalam pergerakan tersebut, para panglima ini membuat kantong-kantong pertahanan, barisan pertahanan dan barisan perlawanan terhadap penjajah.
Penyerangan yang dilakukan difokuskan terhadap kantong-kantong pertahanan militer Belanda. Selain juga melakukan penyergapan terhadap kapal-kapal perang yang mengangkut personil, amunisi dan obat-obatan. Tak tanggung-tanggung, mereka juga membunuh setiap pimpinan militer Belanda yang tertangkap.
Saat melakukan perang gerilya bersama dengan Panglima Tungguk Suto Alus, Raden Mattaher berhasil merampas peti baja milik bea cukai Belanda yang berisi 30 ribu Cap Tongkat, serta beberapa dokumen penting Belanda lainnya di Bayung Lincir, perbatasan antara Jambi dan Palembang.
Setelah perjungan ini, Raden Mattaher bersama Panglima Ambur Panjang (Raden Pamuk), Panglima Betung Besalai (Raden Seman) dan Tunggul Buto (Raden Perang) membantu pasukannya yang berasal dari Jambi Kecil, Jambi Tulo dan ada yang datang dari Pijoan guna menangkis serang musuh di Tarikan menuju Kumpeh.
Namun sayangnya, beberapa waktu kemudian, Raden Mattaher ini dapat dilumpuhkan oleh Belanda dengan beberapa tipu muslihat. Dalam penangkapan tersebut, Raden Mattaher berhasil dibunuh oleh Belanda. Ia ditembak mati ketika sedang berada di rumahnya, pada tanggal 7 September 1907, dalam operasi militer Belanda. Namun sebelumnya, Raden Akhmad yang adalah kakak kandung Raden Mattaher, tewas tertembak saat selesai sholat magrib.
Terkait wafatnya Raden Mattaher, Belanda menyatakan, “Nadat in September 1907 Raden Mattaher, nau van Taha verwant en de meest gevreesde en actieve der gouverne ments tegenstaders, na en rusteloze achtervolging was gesneuveld. Was het verzet gebroken.” Yang kira-kira maksudnya, "Dalam bulan September tahun 1907 Raden Mattaher, keluarga dekat Taha (Sulthan Thaha Saifudin) yang paling di takuti (Belanda) karena aktif gupermend (Pemerintahan Belanda). Setelah dikejar terus menerus gugurlah dia (Raden Mattaher) dalam pertarungan dengan pasukan Belanda. Dalam hal ini belanda menggunakan kalimat was gesneuveld, kalimat ini lazimnya Belanda disebut mati dalam pertempuran.

5.    Mayjen H.A.Thalib
http://www.blogger-jaman-now.blogspot.com

(Putra Kerinci Pertama yang menjadi Duta Besar di Malaysia)
H.A.Thalib merupakan putra terbaik alam Kerinci yang pernah diangkat Presiden RI menjadi Duta Besar Negara sahabat. Ia diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Malaysia tahun 1968. Jenderal  H.A.Thalib lahir pada tahun 1918 di Dusun Sungai Penuh Kota Sungai Penuh Propinsi Jambi. H.A.Thalib merupakan satu orang  putra terbaik alam Kerinci yang pernah diangkat Presiden RI menjadi Duta Besar Negara sahabat untuk pertama kalinya sejak Indonesia Merdeka.
Sebelum diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Malaysia tahun 1968, situasi pelik politik Indonesia, khususnya dalam  masalah  hubungan Diplomatik Indonesia-Malaysia, selama lebih kurang lima tahun  ( 1963-1968 ) hubungan Diplomatik antara Indonesia - Malaysia terputus akibat Konfrontasi (sengketa) politik antara  kedua Negara bertetangga itu.
Menteri Luar  Negeri saat itu H. Adam Malik bertanya  kepada Alamsyah Ratu Prawira Negara yang saat  itu menjabat Menteri Kemakmuran, Menteri  Kemakmuran  berikutnya bertanya   kepada  Buya HAMKA,  seorang  tokoh  kharismatik  dan Ulama Besar  dari Minangkabau, Buya HAMKA tokoh yang di cintai dan  segani umat itu menjawab  Jenderal.H.A.Thalib  paling cocok, dan Menteri Kemakmuran yang juga banyak tahu perjuangan dan sepak  terjang  Jenderal H.A.Thalib  mengiyakan  dan  menyatakan setuju dan Menteri Luar Negeri H. Adam Malik yang mendapat   jawaban dari Jenderal Alamsyah Ratu Perwira Negara juga menyetujui.
Kamis 11 April 1968 Putra terbaik Indonesia asal suku Kerinci Propinsi Jambi dilantik oleh Presiden Republik Indonesia  Suharto di Istana Negara Jakarta- sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Malaysia , bersama Jenderal.H.A.Thalib saat itu Presiden RI juga melantik Sudjatmoko sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat. Dalam Konferensi pers pertamanya setelah dilantik menjadi Duta Besar RI di Malaysia, Jenderal H.A.Thalib menyatakan ”Bahwa  tugas  utamanya  sebagai Duta Besar RI di Malaysia  ialah  memulihkan  hubungan  antara  kedua negara yang berasal dari bangsa serumpun itu dengan sebaik baiknya.”
Sikap ramah dan bersahabat yang ditunjukkan Jenderal.H.A.Thalib kepada masyarakat  dan pemerintah Malaysia telah menghangatkan kembali hubungan baik antara kedua negara,hubungan itu semakin membaik lagi setelah kunjungan muhibbah Presiden Suharto dan rombongan ke Malaysia tahun 1970, sebagai kunjungan balasan atas kedatangan Perdana Mentri Tengku Abdul Rahman tahun 1968, dengan kunjungan  kedua pemimpin dari bangsa serumpun dan berkat hubungan diplomatik yang harmonis yang dilakukan oleh Jenderal.H.A.Thalib, tanpa  saluran resmi perjanjian Internasional ’Pintu hati “ kedua bangsa serumpun terbuka semakin lebar,tidak ada lagi prasangka-prasangka, yang ada hanya bagaimana mengukuhkan tali yang telah ada berabad abad terjalin melalui hubungan ras yaitu ras Melayu.
Penghormatan
Sebagai Duta Besar Jenderal.H.A.Thalib telah behasil menjalin dan meningkatkan kembali hubungan baik antara Indonesia dengan Malaysia, ia juga telah berhasil menyatukan rumpun Melayu yang terpecah  akibat  konfrontasi pada masa berkuasanya Orde Lama (ORLA). dan sebagai penghormatan dan penghargaan pemerintah Malaysia terhadap jasa dan pengabdian Jenderal H.A.Thalib diangkat sebagai warga kehormatan dengan gelar ” Tan Sri”  sebuah gelar kehormatan Kenegaraan Malaysia dan istri beliau Nurdjanah juga mendapat Gelar “Puan Sri”.Penobatan dilakukan di Istana Negara Kerajaan Malaysia pada bulan Juli 1972, dan dari negara bahagian Pahang, Jenderal.H.A.Thalib dan istrinya  juga mendapat kehormatan yakni ”Datuk” dan “Datin”.

Ok sobat sekian dulu postingan saya kali ini , semoga dengan adanya postingan saya ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan sobat tentang pahlawan Jambi , dan bisa menjadi inspirasi, serta semangat dalam menjalani pendidikan .
Jangan lupa Kritik dan saranya ya sobat agar blog ini menjadi blog yang lebih bermanfaat lagi untuk kedepanya .

Saturday, February 3, 2018

KEJADIAN NYATA YANG BERKAITAN DENGAN QADA DAN QADAR (Di SERTAI DENGAN KESIMPULAN DARI KISAH TERSEBUT)

Ok sobat bloger jumpa lagi dengan saya , semoga sobat nggak bosan-bosan berkunjung ke blog saya , walaupun isinya baru beberapa postingan , tapi setidaknya bisa memberi manfaat bagi sobat semua, Oksobat kali ini saya akan post materi yang berkaitan dengan Qada dan Qadar , bagi sobat yang ada tugas dari guru tentang kejadian nyata di dunia yang berkaitan dengan qada dan qadar ,langsung saja ambil materinya dibawah ini .


1
Keindahan dibalik Takdir Kebutaan Mata Seorang Anak (Kisah nyata)


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... ALLAH menyimpan keindahan untuk umat-Nya yg bersabar dan ikhlas menerima takdir (Ungkapan Mulia Seorang Anak Tunanetra Penghafal Qur’an Membuat Penyiar TV Meneteskan Air Mata) ..
Mata adalah jendela dunia. Tanpanya, hidup terasa tak sempurna. Sedih dan mengeluh itu pasti terjadi pada sebagian manusia yang kehilangan penglihatannya. Tapi tidak dengan anak kecil tunanetra dari Mesir itu. Ia adalah salah satu hamba Allah yang ikhlas atas ketetapan-Nya. Penyiar TV Arab Saudi Al-Wathan mewawancarai anak istimewa itu. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Qur'an dari Mesir yang berusia 11 tahun.

Dalam wawancara itu penyiar TV Al-Wathan menanyakan perihal bagaimana ia belajar Al-Qur'an dalam kebutaannya. Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya.


“Saya yang datang ke tempat syaikh” kata anak itu. “Berapa kali dalam sepekan ?”

tanya penyiar TV.

“Tiga hari dalam sepekan” jawab sang anak.

Jawaban anak ini kian membuat terkejut ketika anak ini memberitahu penyiar bahwa Syaikh yang mengajarinya Al-Qur’an hanya mengajarinya satu ayat per hari !!!.

“Pada awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari” ujar anak itu. “Satu ayat saja ?” respon penyiar terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.

Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Qur'an, hingga ia tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Sang penyiar tersenyum dan menepuk paha anak itu tanda kagum, yang disambut senyum ceria oleh anak itu. Yang lebih mengagumkan adalah pernyataannya tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatannya,­ tapi “rahmat” Allah-lah yang ia harapkan.


“Dalam shalatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku” katanya. Mendengar jawaban anak itu sang penyiar semakin terkejut.

“Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu ?. Kenapa ?” tanyanya penyiar TV heran. Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukan ia tak yakin pada Allah, bukan.

Namun ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.

“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut.

Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, Apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu ?. Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya­ untuk saya pada hari kiamat kelak” papar sang anak dengan tegas. Mendengar kalimat mulia anak itu, semua diam. Penyiar TV nampak berkaca-kaca dan air matanya menetes. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan, sehingga tak terasa air mata pun tumpah !.

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum Muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasa­n dalam menghafal kitab Allah, Al-Qur'an. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu) ?” kata penyiar. “Segala puji milik Allah dalam segala keadaan” kata penghafal Qur'an muda itu.

Subhanallah, indahnya dunia tak membuatnya lupa akan Rabbnya dan hari pembalasan. Ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah (rahimahullah):

“Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi: Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya” katanya. Kehilangan penglihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlas menerima takdir-Nya. “Segala puji milik Allah, saya tidak iri kepada kawan-kawan meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat. Ini semua adalah qadha' dan qadar Allah” katanya.

“Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi” kata anak istimewa itu lagi. Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah ...






Kesimpulan:
SUngguh –sungguh Mulia dan tegar anak itu , Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: ..
Allah berfirman: “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga” (HR. Bukhari: 5653, Tirmidzi: 2932, Ahmad: 7597, Ad-Darimi: 2795 dan Ibnu Hibban: 2932) Mungkin kelak Di bukalah pintu surga Firdaus Untuknya Amiin ..... (Wallahu a’lam )


2

KISAH NYATA WANITA MALAM PENGANTIN

“Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”
Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!
Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu !
Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.
Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu.
Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.
Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.
Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!
Kesimpulan:
Kisah Ini menjadi contoh yang sangat baik bagi kita semua , Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama. SubhanAllah…




3
Kisah nyata pak sony
Nama Saya sony (samaran) 40 tahun pekerjaan manajer di sebuah bank cabang milik pemerintah di kabupaten pati.suatu hari ada sepeda motor milik nasabah yang hilang padahal sudah ada tukang parkir tapi tidak diberi kartu katanya ribet.selama saya bekerja disini baru kali ini ada sepeda motor hilang.selang 3 hari saya ditegur atasan karena ada yang tidak beres ketika ada audit rutin.ini semua jelas mengganggu pekerjaan dan juga karir saya sebagai manajer di sebuah bank cabang milik pemerintah.saya bingung dan terpaksa masalah ini saya ceritakan pada istri saya.ini jarang terjadi pada keluarga saya.karena saya termasuk orang yang punya prinsip bahwa pekerjaan dan mencari nafkah adalah kewajiban suami dan resiko pekerjaan adalah sepenuhnya tanggungan suami.jadi saya tidak ingin masalah kantor mengganggu pikiran istri yang tipe orang yang gampang memikirkan semua masalah.termasuk masalah yang sepele.sorenya selepas maghrib istri saya bilang supaya saya minta tolong andi (ipar saya) supaya diantar ke rumah guru spiritual andi di juwana.siapa tahu Allah SWT menolong saya melalui perantara seorang guru spiritual.singkat cerita saya berhasil ketemu guru spiritual tersebut namanya Ahmad Yamin Syakir atau lebih akrab dipanggil kang Min orangnya enak di ajak ngobrol,tidak berpakaian ala kyai karena tidak merasa jadi kyai ,tidak berpakaian ala dukun karena tidak merasa jadi dukun,tidak berpakaian ala paranormal karena tidak merasa jadi paranormal.jadi kang min merasa jadi seorang teman yang selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan,khususnya pada bidang yang kang min tekuni yaitu bidang spiritual.kesan saya setelah satu kali bertemu adalah segala sesuatu adalah dari Allah maka apabila ada yang tidak beres,maka harus di mintakan pertolongan dan dipasrahkan hanya pada Allah.setelah beberapa hari di doakan kang min akhirnya sepeda motor yang hilang bisa ditemukan polisi,dan pegawai yang korupsi mengaku dan dipecat dari kantor dengan menanggung hutang yang harus dicicil kepada bank setiap bulannya.terimakasih ya Allah….saya bisa bekerja dengan tenang kembali setelah ada pertolongan dari Allah lewat seorang teman bernama kang Min yang saya anggap sebagai guru spiritual saya.
Keimpulan:
Dari kisah tersebut kita bisa mengambil konklusi bahwa manusia tetap dituntut untuk berupaya seoptimal mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat dengan seimbang tanpa melupakan sisi pasrah dan tawakal manusia terhadap Penciptanya.  Dalam Qur'an Allah berfirman "Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS 13:11) "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kamu kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu"(QS 28;77 ).
Demikianlah suatu takdir akan berubah sesuai dengan usaha dan upaya manusia meski Allah telah menetapkan suatu ketetapan dari awal namun isyarat Ilahi menuntut suatu usaha optimal agar nasib dan keadaan yang lebih baik atau yang kita inginkan tercapai. Setelah usaha yang maksimal disertai dengan doa dan sikap pasrah pada Allah kita serahkan nasib dan takdir. Inilah yang dinamakan sikap pasrah dan tawakal pada apapun yang kita inginkan.



4
Kisah Nyata
Betapa Berharganya Setetes Air
Penulis terkenal kebangsaan Mesir yang bernama Mustafa Amin, dimana beliau adalah salah satu yang dijebloskan ke dalam penjara di masa pemerintahan Gamal Abdul Naser pada tahun 1965, menceritakan kisahnya saat beradadi dalam penjara. Ia berkata, “Di antara bentuk penganiayaan yang ditetapkan pemerintah pada saat itu adalah melarang penghuni penjara makan dan minum. Larangan untuk makan sangatlah menyakitkan, walaupun masih memungkinkan untuk bertahan, akan tetapi haus adalah siksaan yang tidak mungkin bisa ditanggung, khususnya di bulan-bulan musim panas dengan derajat panas yang tinggi sekali. Selain itu saya mempunyai penyakit gula, yang mengharuskan saya banyak minum. Di hari pertama pelarangan ini, saya masuk kamar kecil, di sana saya mendapatkan tempat air yang berisi air untuk istinja’, kemudian saya minum air tersebut sampai habis, dan sebagai ganti untuk istinja’, saya gunakan tissu toilet. Dengan semakin bertambahnya rasa hausku, saya terpaksa minum air kencing. Sampai di hari ketiga, saya tidak mendapatkan air kencing untuk saya minum. Saya sangat haus, saya merasakan siksaan yang sangat pedih. Kemudian, saya berjalan-jalan di dalam sel saya sehingga nampak seperti orang gila. Lidah dan tenggorokan saya kering.
Terkadang saya menunduk ke lantai dengan harapan semoga sipir penjara terlupa dan menyisakan setetes air ketika mereka mengepel lantai!! Setelah itu saya merasakan bahwa saya hampir binasa, dalam kondisi seperti itu saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, saya kuras pikiranku, sampai saya terhuyung-huyung, ketika itu aku malihat bahwa pintu sel dibuka dengan perlahan-lahan, dan dalam kegelapan saya perhatikan ada tangan seseorang mengulurkan segelas air dingin. Saya tergoncang,terbayang seolah-olah aku telah gila? Aku mulai melihat bayangan orang itu, ah … tidak mungkin ini air … ini hanyalah fatamorgana. Kemudian, saya ulurkan tangan dan saya benar-benar menyentuh gelas tersebut, ternyata sedingin es. Saya melihat pembawa gelas tadi meletakkan jarinya di atas bibirnya, seolah-olah ia berkata kepada saya, ‘Janganlah kamu bicara’. Saya minum air tersebut, akan tetapi ia sangat berbeda dengan air yang pernah saya minum selama ini, ia adalah air yang paling nikmat yang pernah saya minum di dalam kehidupan saya sebelumnya. Kalau seandainya pada waktu itu aku memegang uang satu juta pound (junaih), niscaya aku berikan kepada sipir yang tidak kukenal ini. Minum air segelas tersebut membuat ruh saya seakan kembali ke tubuh dan tidak perlu lagi makan karena kenyang. Bahkan, lebih dari itu, aku merasa tidak perlu dikeluarkan dari penjara.
Saya merasakan kebahagiaan yang belum pernah saya rasakan selama hidup saya,
semua itu disebabkan segelas air yang dingin. Setelah itu, sipir pergi dengan cepat seperti
kedatangannya tadi dan menutup pintu sel dengan
perlahan. Saya melihat bayangan sipir, ia adalah pemuda yang berkulit coklat dan berbadan pendek. Akan tetapi, saya merasakan ia seperti malaikat. Saya melihat langsung pertolongan Allah di sel penjara. Hari yang penuh siksaan terus berjalan, tanpa pernah lagi melihat sipir yang tidak saya kenal itu. Kemudian, saya dipindahkan ke ruangan penyiksaan di lantai dasar penjara. Setiap hari melihat sipir yang tidak saya kenal itu berdiri di hadapan saya. Ketika itu saya hanya berdua. Saya bertanya dengan perlahan-lahan kepadanya,‘Kenapa engkau lakukan perbuatanitu? Kalau mereka mengetahuinya tentu memecatmu’. Dengan menyunggingkan senyum, ia menjawab, ‘Hanya memecat saya!? Bahkan, mereka akan membunuh saya dengan menembakkan senjata?’ Saya bertanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan hal yang berbahaya itu? Ia menjawab, ‘Sesungguhnya saya mengenal anda, namun anda tidak mengenal saya. Kira-kira 9 tahun yang lalu, seorang petani dari Giza mengirim surat kepada anda, yang isinya menceritakan bahwa ia
adalah seorang petani yang tinggal di sebuah perkampungan, dalam hidupnya ia sangat
menginginkan membeli seekor sapi. Akan tetapi, setelah 6 bulan sapi yang berhasil dibelinya tersebut mati.
Beberapa bulan setelah itu, yakni pada malam- malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, tiba-tiba pintu rumah yang sempit kepunyaan petani itu diketuk, dan datanglah utusan dari harian koran anda, Akhbarul Yaum, sambil memegang tali yang mengikat seekor sapi di belakangnya. Ketika itu koran harian Akbarul Yaum selalu mewujudkan beratus-ratus impian para pembacanya di malam-malam Lailatul Qadar di setiap tahunnya’. Sipir itu terdiam sebentar, kemudian ia berkata, ‘Petani yang telah Anda kirimi seekor sapi kepadanya 9 tahun yang lalu adalah ayahku’. Bukankah telah aku katakan kepada kalian tadi bahwa pertolongan Allah menyertaiku saat aku di dalam sel penjara?!

Kesimpulan
Perbuatan baik yang telah dilakukan seorang penulis sejak 9 tahun yang lalu terhadap
seorang petani telah membuahkan hasil dan bisa menyelamatkan hidup sang penulis (dengan izin Allah
Subhanahu wa Ta’ala). Segelas air di saat-saat ujian yang berat sekali lebih berharga dan lebih nikmat dari segala yang ada didunia. Oleh karena itu, jadikanlah dalam beramal ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Menginfakkan harta dijalan kebaikan, pasti akan mendapatkan balasan walaupun setelah lama berlalu masanya. Terkadang balasan perbuatan baik itu akan berlipat ganda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al- Qur’an surat Al-baqarah: 272, yang artinya: “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Janganlah kamu membelanjakan sesuatu, melainkan karena mencari keridhaan Allah. Apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).






5
Allah Sesuai Prasangka Hamba-Nya
Selalulah berkhusnudzon dengan ketetapan Allah, dalam kondisi apapun. Aku tahu pasti hasilnya, karena terlalu sering aku mengalami banyak hal yang semua berpangkal pada satu, khusnudzon sama Allah. Dulu, aku memutuskan kuliah karena aku yakin ayah dan kakakku mau membiayaiku, dan tidak akan membuatku telantar. Tapi keyakinan itu sirna, setelah Ayah dipanggil olehNya, dan penghasilan kakakku (satu-satunya orang yang berpenghasilan tetap di keluargaku) hanya cukup untuknya hidup. Bayangkan, gaji kakakku yang hanya 500 ribu sebulan, mana cukup untuk kehidupanku dan biaya kuliahku, untuk dirinya sendiripun aku rasa kurang dari cukup (dalam kacamata manusia), sedangkan biaya satu semesterku minimal untuk SPP 700 ribu.
 Namun, beruntunglah diriku saat itu. Saat dimana pemahamanku tentang konsep iman, konsep rejeki dan konsep qada qadar sudah mengakar kuat. Alhamdulillah, keyakinan pada pertolongan Allah lah yang membuatku selalu merasa bisa dan mampu bertahan, apapun yang nanti aku alami. Tentu dengan berusaha menunjukkan padaNya, bahwa aku layak mendapatkan pertolonganNya (Muhammad : 7). Hanya karena kemudahanNya lah, aku mendapatkan lima beasiswa dalam kurun selama 5 tahun kuliah. Jumlah terbanyak yang pernah diraih oleh mahasiswa dimana tempatku belajar serta tawaran mengajar privat disana-sini, tanpa perlu bersusah payah mengajukan lamaran ke sebuah lembaga bimbingan belajar.
 Karena kemudahanNya lah, aku mampu mengasah keterampilan menjahitku, secara otodidak, dari hanya memasarkan produk kain flannel secara kecil-kecilan, hingga diberi kemudahan rejeki untuk membeli mesin jahit dan mesin obras, lalu menjalankan usaha jahitku saat itu. Akupun mampu memenuhi kebutuhanku sendiri, sejak sebelum lulus. Aku selalu ingat cerita yang selalu kuberikan pada para siswa SMP binaanku, cicak yang merayap pun selalu bisa mendapatkan nyamuk yang terbang, itulah kemurahan Allah. Maka jangan pernah berputus asa dari rahmatNya. Dulu, sering aku tak memegang uang sepeserpun di tangan, sedangkan mau pinjam lagi ke kawan satu kostan terbersit rasa malu, karena hutang yang kemarin pun belum mampu kulunasi. Tapi aku selalu yakin, Allah tak akan pernah menelantarkan hambaNya, selama kita yakin akan pertolonganNya. Dan sering, disaat rasa laparku tak mampu tertahan lagi, ada yang tiba-tiba membayar daganganku, sekalipun mungkin hanya 5 ribu saja, Alhamdulillah, setidaknya aku bisa makan malam nanti dan esok pagi.
 Atau ketika aku tak punya cukup ongkos untuk sekedar mudik ke kampung halaman, Subhanallah, dosenku yang baik saat itu, menawarkan pinjaman kepada mahasiswanya, dan kau tahu, aku mengembalikan uang pinjaman itu pada lebaran tahun berikutnya.  Atau ketika aku butuh dana untuk penelitian saat itu, iseng kugesekkan KTM ku, berharap masih ada sisa beasiswa yang terkirim. Padahal aku tahu, beasiswa itu sudah habis masa berlakunya, karena 2 bulan sebelumnya aku selalu mendapati KTM ku kosong. Tapi memang kebiasaanku saat itu, setiap mengantar teman ke ATM, aku sering iseng menggesekkan KTM ku, dan Subahanallah, lagi, aku tak menyangka beasiswa itu akhirnya terkirim lagi, sebagai perpanjangan tahun berikutnya. Kejadian-kejadian kecil itu, selalu membuatku tak bisa untuk bersu'udzon kepadaNya. Aku hanya mampu menangis, karena Allah begitu menyayangiku, sekalipun diri ini berlumpur dosa dan maksiat. Astaghfirullah... Dan cerita tak berhenti sampai disini. Aku ingat saat penelitian, aku sengaja mengambil proyek dosen dengan topik dan masa penelitian yang mudah dan singkat, disamping mencari yang ada penyandang dananya, salah satunya untuk mempercepat proses kelulusanku, yang kutarget tak lebih dari 4 tahun.
Di tengah jalan, ternyata tak semudah yang kubayangkan. Dari kesalahan penyiapan bahan, tempat penelitian yang harus mengantri dan bahan-bahan penelitian yang harus kutanggung dulu, karena dana yang belum cair. Tapi Alhamdulillah, aku tak harus mengulang sekalipun ada kesalahan penyiapan bahan, lalu tempat yang mengantri membuatku mengenal penelitian di topik yang sama yang akhirnya memudahkan saat proses penulisan, dan kemunduran pencairan dana akhirnya ditanggung oleh kawan yang satu penelitian denganku, walaupun kelulusanku akhirnya mundur sekitar enam bulan dari target awal. Subhanallah, betapa indah rencanaMu ya Allah, yang tak akan mungkin mampu kuurai, bagaimana ini semua bisa terjadi? Apakah masih ada cerita lain? Ya, masih ada dan mungkin belum akan selesai hingga aku menghadapNya. Aku ingat, salah satu impianku adalah mengajar di salah satu SDIT favoritku di kota tempatku kuliah.
Dan kau tau, tahun kelulusanku adalah tahun dimana SDIT tersebut membutuhkan banyak guru, karena perluasan kelas dan beberapa guru yang memutuskan keluar. Yah, aku diterima, sesuatu yang dulu kupikir sangat sulit, melihat banyak kakak tingkatku yang gagal (bahkan aku merasa kualitas mereka lebih baik dariku) ketika mendaftar dulu. Subhanallah, Kau meluluskanku di tahun yang tepat ya Allah. Lagi? Tentu saja. Di tengah perjalanan, ketika usia mengajarku baru menginjak dua bulan, kakak memintaku pulang, karena Mamak tercintaku membutuhkan kehadiranku. Walaupun aku harus meninggalkan semua mimpiku disini, lagi-lagi aku yakin, mungkin Allah punya rencana lain dengan semua ini. Dan ternyata iya, disinilah aku akhirnya membangun mimpi selanjutnya. Sungguh tak disangka, saat kepulanganku adalah saat dimana sebuah balai penelitian tanaman perkebunan, membutuhkan seorang peneliti. Apakah sebuah kebetulan? Bukan, karena inilah skenario Allah yang Maha Indah. Mereka membutuhkan peneliti bukan pada saat harus membuka lowongan.
Balai itu membutuhkan peneliti, karena salah satu peneliti yang baru direkrutnya memutuskan keluar, dan dia berada pada bidang yang kutekuni saat kuliah, Pemuliaan Tanaman. Kau tahu kan, jika dia tak keluar, maka lowongan itu tak mungkin ada, dan jika bukan bidangku, maka akupun tak akan mungkin diterima, karena syarat seorang peneliti adalah sesuai dengan bidang kepakarannya. Entah mengapa aku yakin sekali, inilah jalanku, sekalipun saat itu aku harus melewati banyak kandidat yang lain dan hanya satu orang yang direkrut. Dan Alhamdulillah, Subhanallah, lagi dan lagi, rasa syukur tak hentinya kupanjatkan pada Dzat Yang Maha Pengasih. Menjadi peneliti, membuatku meraih mimpi-mimpiku. Mimpi memiliki publikasi skala nasional bahkan internasional, mimpi menjelajah Nusantara bahkan luar Negara, mimpi memiliki jaringan hingga ke pelosok negeri, dan tentu saja, selalu berada dekat dengan Mamak tercintaku.
Subhanallah, maka alasan apa yang membuat kami harus bersu'udzon kepadaMu? Lagi, di tahun pertama aku bekerja, kakak ketigaku terlilit hutang sebagai akibat kebangkrutan usahanya, bahkan hingga puluhan juta. Hingga gaji tahun pertamaku harus tersisih untuk turut melunasi hutang-hutangnya. Tapi Alhamdulillah, Allah memberiku cahayaNya hingga bisa melihat segala permasalahan dengan jernih, dan mengambil hikmah tentunya. Rumah peninggalan ayah di kota tempatnya bekerja, akhirnya kami jual. Berkat penjualan rumah itu, kami akhirnya mampu memperbaiki rumah yang ditinggali Mamak yang kondisinya sudah hampir ambruk, disamping untuk melunasi hutang-hutangnya. Ya, aku yakin Allah membuka kami jalan untuk menjual rumah itu, karena Maha Tahu apa yang paling tepat diberikanNya untuk kami.
Dan tentu saja, tentang jodoh. Aku sudah tak menghitung lagi, berapa proses kulewati dan selalu berakhir dengan kegagalan. Tapi aku selalu yakin, kelak, Allah akan memilihkan seseorang untukku di saat yang tepat. Aku ingat perkataan guru mengajiku saat itu... "Jodoh itu dari Allah, maka mintalah sama Allah, dan upayakan diri kita layak mendapatkan jodoh dariNya", Yah, aku akhirnya sadar, jangan pernah menyalahkan orang yang meninggalkan kita, jangan pernah menyalahkan mereka yang tak ikhlas menerima kita, terlebih jangan pernah menyalahkan takdir. Tapi teruslah ukur diri kita, sudahkah kita layak mendapatkan jodoh terbaik dariNya? siapkah kita saat Allah menjodohkan kita dengan manusia pilihanNya? maka fokuslah pada apa yang bisa kita upayakan, jangan fokus kepada hal-hal yang diluar kemampuan kita, karena menentukan siapa dan kapan jodoh kita, adalah HAK Allah semata. Dan tahukah kau, dulu aku pernah berharap mendapatkan seseorang yang mau menemaniku di kota kelahiranku, dan memiliki kemampuan berwiraswasta yang mumpuni, selain sholeh dan giat berdakwah tentunya.
Dan Subhanallah, ternyata sosok seperti itu akhirnya dihadirkanNya di hadapanku. Dan dia, ya Allah, laki-laki itu begitu ikhlas menerimaku... sesuatu yang aku yakin, Jika Kau sudah memudahkannya, maka tak ada satupun yang bisa menyulitkannya. Dan nanti ya Allah, jika aku kehilangan apapun yang aku sukai, apapun yang aku sayangi, dan apapun milikMu yang Kau titipkan padaku, aku yakin Kau telah menyiapkan ganti yang lebih baik, dan rencanaMu ya Allah, adalah rencana yang terindah, skenario mengagumkan yang hanya akan terlihat indah, pada mereka yang berkhusnudzon pada setiap ketetapanMu... "Duhai Tuhanku, karuniakan padaku ilham agar aku selalu mensyukuri .... nikmat-Mu yang Kau anugrahkan padaku dan kepada kedua orang tuaku, ... dan agar aku selalu beramal shaleh yang Kau ridhai. Dengan rahmat-Mu ... masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh." (An-Naml/27:19).
Kesimpulan:
Selalulah berkhusnudzon dengan ketetapan Allah,



6
Qadha dan Qadhar dari Lisan Imam Ali as
Tahun 36 Hijriah. Amirul Mukminin Ali as bersama pasukannya bergerak ke daerah Shiffin untuk menghancurkan pasukan Muawiyah. Terjadilah perang Shiffin. Perang ini berlanjut hingga 18 bulan dan setelah berakhir, Imam Ali as kembali ke Kufah.
Suatu hari ada seorang pria berumur mendatangi Imam Ali as di Kufah dan bertanya, "Wahai Amirul Mukminin! Apakah kepergian kita ke medan perang Shiffin dan berperang dengan warga Syam termasuk Qadha dan Qadha Ilahi?"
Imam Ali as menjawab, "Benar, wahai orang tua! Kita tidak akan pernah menaiki dataran tinggi sekalipun atau menuruni jalan terjal, kecuali dengan Qadha dan Qadha Ilahi."
Orang tua itu salah memahami apa yang disampaikan oleh Imam Ali as dan beranggapan segala yang terjadi merupakan determinasi ilahi (Ijbar) berkata, "Dengan demikian, apakah saya bisa menisbatkan kesulitan yang saya alami dalam perjalanan ini dikarenakan Allah, dan saya mengatakan bahwa Allah Swt yang memaksa saya melakukan semua ini? Artinya, saya tidak akan mendapat pahala atas semua pekerjaan ini?"
Imam Ali as berkata, "Diamlah, wahai orang tua! Jangan berucap seperti itu. Demi Allah! Perjalananmu ke Shiffin, tinggal di sana dan kembali dari sana telah disediakan pahala yang besar di sisi Allah. Engkau tidak terpaksa dalam melakukan semua ini."
Orang tua itu bertanya lagi, "Bila kepergian kita ke Shiffin adalah bebas dan sesuai dengan kehendak kita sendiri, lalu mengapa kembalinya kita dari sana dengan Qadha dan Qadar Ilahi?"
Imam Ali as menjawab, "Seakan-akan engkau beranggapan yang dimaksud dari Qadha dan Qadar Ilahi adalah kepastian ilahi, dimana engkau terpaksa melakukannya. Bila memang demikian, maka segala bentuk pahala, siksa, perintah dan larangan Allah Swt menjadi sia-sia. Kabar gembira dan ancaman kepada manusia tidak berarti. Tidak ada orang melakukan perbuatan baik yang dipuji dan pelaku dosa tidak patut dicela. Pelaku kebaikan tidak akan dinilai lebih baik dari pendosa dan pelaku keburukan tidak layat dicela dari pelaku kebaikan. Ucapan seperti ini sama seperti ucapan para penyembah berhala dan musuh Allah, golongan setan dan kelompok Ijbar dan Majusinya umat ini. Allah Swt meletakkan kewajiban kepada manusia berdasarkan kehendak manusia dan begitu juga larangan sesuai dengan ikhtiarnya, sehingga mereka tidak melakukan dosa sesuai dengan ikhtiarnya. Dengan demikian, setiap sedikit perbuatan baik akan diganjar pahala yang banyak dan tidak menaati Allah bukan berarti mengalahkan-Nya. Menaati Allah Swt dilakukan tidak dengan terpaksa. Allah Swt tidak memberikan ikhtiar sempurna kepada manusia dan segalanya diserahkan kepada mereka (Tafwidh). Begitu juga Allah Swt tidak menciptakan langit, bumi dan udara secara sia-sia, tidak juga mengutus begitu saja para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Ini adalah akidah orang kafir. Celakalah mereka dan akan dimasukkan ke neraka Jahannam."
Penjelasan lugas dan argumentatif Imam Ali as berhasil memuaskan orang tua itu dan membuatnya gembira.

Kesimpulan :
Allah Swt meletakkan kewajiban kepada manusia berdasarkan kehendak manusia dan begitu juga larangan sesuai dengan ikhtiarnya, sehingga mereka tidak melakukan dosa sesuai dengan ikhtiarnya. Allah Swt tidak memberikan ikhtiar sempurna kepada manusia dan segalanya diserahkan kepada mereka (Tafwidh).


7
Kisah Nabi Musa Tentang QADA' DAN QADAR
Terdapat satu kisah . Nabi Musa a.s. pernah bertanyakan kepad Allah SWT bagaimana Allah menetapkan suatu takdir kepada manusia di dunia ini. Lalu Allah SWT memerintahkan Nabi Musa a.s. pergi disatu sungai yang terdapat sebuat batu yang besar dan baginda  hendaklah melihat saja dicelah-celah batu tersebut peristiwa yang akan berlaku dan biarkan peristiwa itu berjalan jangan diganggu.
Tibalah Nabi Musa a.s melihat dan di celah-celah batu besar tersebut tiba-tiba datang seorang pemuda berkuda dan beliau berhenti ditebing sungai tersebut dan membasuh muka, lalu pemuda tersebut meletakkan sebuah kantong berisi emas ditebing batu sungai tersebut lalu pemuda itu lupa meninggalkanya. Selepas itu datang seorang lelaki pergi ketempat tersebut dan melihat ada kantong emas dan kantong emas tersebut di ambilnya . Selepas itu datang pula seorang lelaki tua yang buta dan sampai ditempat yang sama membasuh mukanya, lalu pemuda yang berkuda tadi datang lagi untuk mengabmbil kantong emasnya dan melihat pria tua di situ lalu menanyakan dan meminta kantong emasnya ke orang buta tersebut . Lelaki buta itu mengatakan beliau buta dan mengaku tak mengambil barang tersebut. Pemuda itu tak puas mendengar jawaban orang tua buta itu dan terjadilah pertengkaran  sehinggakan beliau mengeluarkan pisau dan membunuh lelaki buta tadi.
Setelah peristiwa terebut berlalu  Allah SWT  menceritakan kepada Nabi Musa a.s. bahawa pemuda tersebut baru saja merampok kantong emas dirumah lelaki tadi . Dan lelaki tadi yang mengambilnya melihat kantong emasnya  lalu  lelaki itu mengambilnya kerana merasakan barang ini adalah hak milik keluarganya. Orang tua yang buta itu,  20 tahun lalu adalah orang jahat yang sering pernah merampok  keluarga pemuda tersebut dan membunuh kedua  ibu-bapanya ini adalah pembalasan terhadap kezaliman yang beliau lakukan dahulu.


Kesimpulan :
Dari peristiwa tersebut insaflah Nabi Musa a.s. bahwa balasan Allah SWT pasti berlaku kepada siapa yang melakukan kezaliman kepada orang lain dan ianya berlaku di dunia lagi sebelum tiba siksaan  di hari akhirat. Ingatlah bahawasanya sesiapa saja yang berbuat zalim kepada orang lain di dunia ini maka balasannya pasti akan diterima di dunia ini seperti mana kisah di atas. Tetapi sekiranya mereka tidak di balas di dunia maka di hari akhirat pasti akan menerima azab seksa d Allah SWT.




8
Kisah Nyata
Betapa Berharganya Setetes Air

Penulis terkenal kebangsaan Mesir yang bernama Mustafa Amin, dimana beliau adalah salah satu yang dijebloskan ke dalam penjara di masa pemerintahan Gamal Abdul Naser pada tahun 1965, menceritakan kisahnya saat beradadi dalam penjara. Ia berkata, “Di antara bentuk penganiayaan yang ditetapkan pemerintah pada saat itu adalah melarang penghuni penjara makan dan minum. Larangan untuk makan sangatlah menyakitkan, walaupun masih memungkinkan untuk bertahan, akan tetapi haus adalah siksaan yang tidak mungkin bisa ditanggung, khususnya di bulan-bulan musim panas dengan derajat panas yang tinggi sekali. Selain itu saya mempunyai penyakit gula, yang mengharuskan saya banyak minum. Di hari pertama pelarangan ini, saya masuk kamar kecil, di sana saya mendapatkan tempat air yang berisi air untuk istinja’, kemudian saya minum air tersebut sampai habis, dan sebagai ganti untuk istinja’, saya gunakan tissu toilet. Dengan semakin bertambahnya rasa hausku, saya terpaksa minum air kencing. Sampai di hari ketiga, saya tidak mendapatkan air kencing untuk saya minum. Saya sangat haus, saya merasakan siksaan yang sangat pedih. Kemudian, saya berjalan-jalan di dalam sel saya sehingga nampak seperti orang gila. Lidah dan tenggorokan saya kering.
Terkadang saya menunduk ke lantai dengan harapan semoga sipir penjara terlupa dan menyisakan setetes air ketika mereka mengepel lantai!! Setelah itu saya merasakan bahwa saya hampir binasa, dalam kondisi seperti itu saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, saya kuras pikiranku, sampai saya terhuyung-huyung, ketika itu aku malihat bahwa pintu sel dibuka dengan perlahan-lahan, dan dalam kegelapan saya perhatikan ada tangan seseorang mengulurkan segelas air dingin. Saya tergoncang,terbayang seolah-olah aku telah gila? Aku mulai melihat bayangan orang itu, ah … tidak mungkin ini air … ini hanyalah fatamorgana. Kemudian, saya ulurkan tangan dan saya benar-benar menyentuh gelas tersebut, ternyata sedingin es. Saya melihat pembawa gelas tadi meletakkan jarinya di atas bibirnya, seolah-olah ia berkata kepada saya, ‘Janganlah kamu bicara’. Saya minum air tersebut, akan tetapi ia sangat berbeda dengan air yang pernah saya minum selama ini, ia adalah air yang paling nikmat yang pernah saya minum di dalam kehidupan saya sebelumnya. Kalau seandainya pada waktu itu aku memegang uang satu juta pound (junaih), niscaya aku berikan kepada sipir yang tidak kukenal ini. Minum air segelas tersebut membuat ruh saya seakan kembali ke tubuh dan tidak perlu lagi makan karena kenyang. Bahkan, lebih dari itu, aku merasa tidak perlu dikeluarkan dari penjara.
Saya merasakan kebahagiaan yang belum pernah saya rasakan selama hidup saya,
semua itu disebabkan segelas air yang dingin. Setelah itu, sipir pergi dengan cepat seperti
kedatangannya tadi dan menutup pintu sel dengan
perlahan. Saya melihat bayangan sipir, ia adalah pemuda yang berkulit coklat dan berbadan pendek. Akan tetapi, saya merasakan ia seperti malaikat. Saya melihat langsung pertolongan Allah di sel penjara. Hari yang penuh siksaan terus berjalan, tanpa pernah lagi melihat sipir yang tidak saya kenal itu. Kemudian, saya dipindahkan ke ruangan penyiksaan di lantai dasar penjara. Setiap hari melihat sipir yang tidak saya kenal itu berdiri di hadapan saya. Ketika itu saya hanya berdua. Saya bertanya dengan perlahan-lahan kepadanya,‘Kenapa engkau lakukan perbuatanitu? Kalau mereka mengetahuinya tentu memecatmu’. Dengan menyunggingkan senyum, ia menjawab, ‘Hanya memecat saya!? Bahkan, mereka akan membunuh saya dengan menembakkan senjata?’ Saya bertanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan hal yang berbahaya itu? Ia menjawab, ‘Sesungguhnya saya mengenal anda, namun anda tidak mengenal saya. Kira-kira 9 tahun yang lalu, seorang petani dari Giza mengirim surat kepada anda, yang isinya menceritakan bahwa ia adalah seorang petani yang tinggal di sebuah perkampungan, dalam hidupnya ia sangat menginginkan membeli seekor sapi. Akan tetapi, setelah 6 bulan sapi yang berhasil dibelinya tersebut mati.
Beberapa bulan setelah itu, yakni pada malam- malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, tiba-tiba pintu rumah yang sempit kepunyaan petani itu diketuk, dan datanglah utusan dari harian koran anda, Akhbarul Yaum, sambil memegang tali yang mengikat seekor sapi di belakangnya. Ketika itu koran harian Akbarul Yaum selalu mewujudkan beratus-ratus impian para pembacanya di malam-malam Lailatul Qadar di setiap tahunnya’. Sipir itu terdiam sebentar, kemudian ia berkata, ‘Petani yang telah Anda kirimi seekor sapi kepadanya 9 tahun yang lalu adalah ayahku’. Bukankah telah aku katakan kepada kalian tadi bahwa pertolongan Allah menyertaiku saat aku di dalam sel penjara?!

Kesimpulan
Perbuatan baik yang telah dilakukan seorang penulis sejak 9 tahun yang lalu terhadap
seorang petani telah membuahkan hasil dan bisa menyelamatkan hidup sang penulis



9
Keindahan dibalik Takdir Kebutaan Mata Seorang Anak (Kisah nyata)

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... ALLAH menyimpan keindahan untuk umat-Nya yg bersabar dan ikhlas menerima takdir

(Ungkapan Mulia Seorang Anak Tunanetra Penghafal Qur’an Membuat Penyiar TV Meneteskan Air Mata) ..

Mata adalah jendela dunia. Tanpanya, hidup terasa tak sempurna. Sedih dan mengeluh itu pasti terjadi pada sebagian manusia yang kehilangan penglihatannya. Tapi tidak dengan anak kecil tunanetra dari Mesir itu. Ia adalah salah satu hamba Allah yang ikhlas atas ketetapan-Nya. Penyiar TV Arab Saudi Al-Wathan mewawancarai anak istimewa itu. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Qur'an dari Mesir yang berusia 11 tahun.

Dalam wawancara itu penyiar TV Al-Wathan menanyakan perihal bagaimana ia belajar Al-Qur'an dalam kebutaannya. Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya.

“Saya yang datang ke tempat syaikh” kata anak itu. “Berapa kali dalam sepekan ?”

tanya penyiar TV.

“Tiga hari dalam sepekan” jawab sang anak.

Jawaban anak ini kian membuat terkejut ketika anak ini memberitahu penyiar bahwa Syaikh yang mengajarinya Al-Qur’an hanya mengajarinya satu ayat per hari !!!.

“Pada awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari” ujar anak itu. “Satu ayat saja ?” respon penyiar terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.

Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Qur'an, hingga ia tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Sang penyiar tersenyum dan menepuk paha anak itu tanda kagum, yang disambut senyum ceria oleh anak itu. Yang lebih mengagumkan adalah pernyataannya tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatannya,­ tapi “rahmat” Allah-lah yang ia harapkan.

“Dalam shalatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku” katanya. Mendengar jawaban anak itu sang penyiar semakin terkejut.

“Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu ?. Kenapa ?” tanyanya penyiar TV heran. Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukan ia tak yakin pada Allah, bukan.

Namun ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.

“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut.

Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, Apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu ?. Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya­ untuk saya pada hari kiamat kelak” papar sang anak dengan tegas. Mendengar kalimat mulia anak itu, semua diam. Penyiar TV nampak berkaca-kaca dan air matanya menetes. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan, sehingga tak terasa air mata pun tumpah !.

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum Muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasa­n dalam menghafal kitab Allah, Al-Qur'an. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu) ?” kata penyiar. “Segala puji milik Allah dalam segala keadaan” kata penghafal Qur'an muda itu.

Subhanallah, indahnya dunia tak membuatnya lupa akan Rabbnya dan hari pembalasan. Ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah (rahimahullah):

“Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi: Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya” katanya. Kehilangan penglihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlas menerima takdir-Nya. “Segala puji milik Allah, saya tidak iri kepada kawan-kawan meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat. Ini semua adalah qadha' dan qadar Allah” katanya.

“Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi” kata anak istimewa itu lagi. Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah ...






Kesimpulan:
Dari Kisah di atas hendaklah menjadi inspirasi bagi kita yang terlahir sempurna untuk selalu ingat kepada sang pencipta yaitu Allah Swt


10
Allah Sesuai Prasangka Hamba-Nya
Selalulah berkhusnudzon dengan ketetapan Allah, dalam kondisi apapun. Aku tahu pasti hasilnya, karena terlalu sering aku mengalami banyak hal yang semua berpangkal pada satu, khusnudzon sama Allah. Dulu, aku memutuskan kuliah karena aku yakin ayah dan kakakku mau membiayaiku, dan tidak akan membuatku telantar. Tapi keyakinan itu sirna, setelah Ayah dipanggil olehNya, dan penghasilan kakakku (satu-satunya orang yang berpenghasilan tetap di keluargaku) hanya cukup untuknya hidup. Bayangkan, gaji kakakku yang hanya 500 ribu sebulan, mana cukup untuk kehidupanku dan biaya kuliahku, untuk dirinya sendiripun aku rasa kurang dari cukup (dalam kacamata manusia), sedangkan biaya satu semesterku minimal untuk SPP 700 ribu.
 Namun, beruntunglah diriku saat itu. Saat dimana pemahamanku tentang konsep iman, konsep rejeki dan konsep qada qadar sudah mengakar kuat. Alhamdulillah, keyakinan pada pertolongan Allah lah yang membuatku selalu merasa bisa dan mampu bertahan, apapun yang nanti aku alami. Tentu dengan berusaha menunjukkan padaNya, bahwa aku layak mendapatkan pertolonganNya (Muhammad : 7). Hanya karena kemudahanNya lah, aku mendapatkan lima beasiswa dalam kurun selama 5 tahun kuliah. Jumlah terbanyak yang pernah diraih oleh mahasiswa dimana tempatku belajar serta tawaran mengajar privat disana-sini, tanpa perlu bersusah payah mengajukan lamaran ke sebuah lembaga bimbingan belajar.
 Karena kemudahanNya lah, aku mampu mengasah keterampilan menjahitku, secara otodidak, dari hanya memasarkan produk kain flannel secara kecil-kecilan, hingga diberi kemudahan rejeki untuk membeli mesin jahit dan mesin obras, lalu menjalankan usaha jahitku saat itu. Akupun mampu memenuhi kebutuhanku sendiri, sejak sebelum lulus. Aku selalu ingat cerita yang selalu kuberikan pada para siswa SMP binaanku, cicak yang merayap pun selalu bisa mendapatkan nyamuk yang terbang, itulah kemurahan Allah. Maka jangan pernah berputus asa dari rahmatNya. Dulu, sering aku tak memegang uang sepeserpun di tangan, sedangkan mau pinjam lagi ke kawan satu kostan terbersit rasa malu, karena hutang yang kemarin pun belum mampu kulunasi. Tapi aku selalu yakin, Allah tak akan pernah menelantarkan hambaNya, selama kita yakin akan pertolonganNya. Dan sering, disaat rasa laparku tak mampu tertahan lagi, ada yang tiba-tiba membayar daganganku, sekalipun mungkin hanya 5 ribu saja, Alhamdulillah, setidaknya aku bisa makan malam nanti dan esok pagi.
 Atau ketika aku tak punya cukup ongkos untuk sekedar mudik ke kampung halaman, Subhanallah, dosenku yang baik saat itu, menawarkan pinjaman kepada mahasiswanya, dan kau tahu, aku mengembalikan uang pinjaman itu pada lebaran tahun berikutnya.  Atau ketika aku butuh dana untuk penelitian saat itu, iseng kugesekkan KTM ku, berharap masih ada sisa beasiswa yang terkirim. Padahal aku tahu, beasiswa itu sudah habis masa berlakunya, karena 2 bulan sebelumnya aku selalu mendapati KTM ku kosong. Tapi memang kebiasaanku saat itu, setiap mengantar teman ke ATM, aku sering iseng menggesekkan KTM ku, dan Subahanallah, lagi, aku tak menyangka beasiswa itu akhirnya terkirim lagi, sebagai perpanjangan tahun berikutnya. Kejadian-kejadian kecil itu, selalu membuatku tak bisa untuk bersu'udzon kepadaNya. Aku hanya mampu menangis, karena Allah begitu menyayangiku, sekalipun diri ini berlumpur dosa dan maksiat. Astaghfirullah... Dan cerita tak berhenti sampai disini. Aku ingat saat penelitian, aku sengaja mengambil proyek dosen dengan topik dan masa penelitian yang mudah dan singkat, disamping mencari yang ada penyandang dananya, salah satunya untuk mempercepat proses kelulusanku, yang kutarget tak lebih dari 4 tahun.
Di tengah jalan, ternyata tak semudah yang kubayangkan. Dari kesalahan penyiapan bahan, tempat penelitian yang harus mengantri dan bahan-bahan penelitian yang harus kutanggung dulu, karena dana yang belum cair. Tapi Alhamdulillah, aku tak harus mengulang sekalipun ada kesalahan penyiapan bahan, lalu tempat yang mengantri membuatku mengenal penelitian di topik yang sama yang akhirnya memudahkan saat proses penulisan, dan kemunduran pencairan dana akhirnya ditanggung oleh kawan yang satu penelitian denganku, walaupun kelulusanku akhirnya mundur sekitar enam bulan dari target awal. Subhanallah, betapa indah rencanaMu ya Allah, yang tak akan mungkin mampu kuurai, bagaimana ini semua bisa terjadi? Apakah masih ada cerita lain? Ya, masih ada dan mungkin belum akan selesai hingga aku menghadapNya. Aku ingat, salah satu impianku adalah mengajar di salah satu SDIT favoritku di kota tempatku kuliah.
Dan kau tau, tahun kelulusanku adalah tahun dimana SDIT tersebut membutuhkan banyak guru, karena perluasan kelas dan beberapa guru yang memutuskan keluar. Yah, aku diterima, sesuatu yang dulu kupikir sangat sulit, melihat banyak kakak tingkatku yang gagal (bahkan aku merasa kualitas mereka lebih baik dariku) ketika mendaftar dulu. Subhanallah, Kau meluluskanku di tahun yang tepat ya Allah. Lagi? Tentu saja. Di tengah perjalanan, ketika usia mengajarku baru menginjak dua bulan, kakak memintaku pulang, karena Mamak tercintaku membutuhkan kehadiranku. Walaupun aku harus meninggalkan semua mimpiku disini, lagi-lagi aku yakin, mungkin Allah punya rencana lain dengan semua ini. Dan ternyata iya, disinilah aku akhirnya membangun mimpi selanjutnya. Sungguh tak disangka, saat kepulanganku adalah saat dimana sebuah balai penelitian tanaman perkebunan, membutuhkan seorang peneliti. Apakah sebuah kebetulan? Bukan, karena inilah skenario Allah yang Maha Indah. Mereka membutuhkan peneliti bukan pada saat harus membuka lowongan.
Balai itu membutuhkan peneliti, karena salah satu peneliti yang baru direkrutnya memutuskan keluar, dan dia berada pada bidang yang kutekuni saat kuliah, Pemuliaan Tanaman. Kau tahu kan, jika dia tak keluar, maka lowongan itu tak mungkin ada, dan jika bukan bidangku, maka akupun tak akan mungkin diterima, karena syarat seorang peneliti adalah sesuai dengan bidang kepakarannya. Entah mengapa aku yakin sekali, inilah jalanku, sekalipun saat itu aku harus melewati banyak kandidat yang lain dan hanya satu orang yang direkrut. Dan Alhamdulillah, Subhanallah, lagi dan lagi, rasa syukur tak hentinya kupanjatkan pada Dzat Yang Maha Pengasih. Menjadi peneliti, membuatku meraih mimpi-mimpiku. Mimpi memiliki publikasi skala nasional bahkan internasional, mimpi menjelajah Nusantara bahkan luar Negara, mimpi memiliki jaringan hingga ke pelosok negeri, dan tentu saja, selalu berada dekat dengan Mamak tercintaku.
Subhanallah, maka alasan apa yang membuat kami harus bersu'udzon kepadaMu? Lagi, di tahun pertama aku bekerja, kakak ketigaku terlilit hutang sebagai akibat kebangkrutan usahanya, bahkan hingga puluhan juta. Hingga gaji tahun pertamaku harus tersisih untuk turut melunasi hutang-hutangnya. Tapi Alhamdulillah, Allah memberiku cahayaNya hingga bisa melihat segala permasalahan dengan jernih, dan mengambil hikmah tentunya. Rumah peninggalan ayah di kota tempatnya bekerja, akhirnya kami jual. Berkat penjualan rumah itu, kami akhirnya mampu memperbaiki rumah yang ditinggali Mamak yang kondisinya sudah hampir ambruk, disamping untuk melunasi hutang-hutangnya. Ya, aku yakin Allah membuka kami jalan untuk menjual rumah itu, karena Maha Tahu apa yang paling tepat diberikanNya untuk kami.
Dan tentu saja, tentang jodoh. Aku sudah tak menghitung lagi, berapa proses kulewati dan selalu berakhir dengan kegagalan. Tapi aku selalu yakin, kelak, Allah akan memilihkan seseorang untukku di saat yang tepat. Aku ingat perkataan guru mengajiku saat itu... "Jodoh itu dari Allah, maka mintalah sama Allah, dan upayakan diri kita layak mendapatkan jodoh dariNya", Yah, aku akhirnya sadar, jangan pernah menyalahkan orang yang meninggalkan kita, jangan pernah menyalahkan mereka yang tak ikhlas menerima kita, terlebih jangan pernah menyalahkan takdir. Tapi teruslah ukur diri kita, sudahkah kita layak mendapatkan jodoh terbaik dariNya? siapkah kita saat Allah menjodohkan kita dengan manusia pilihanNya? maka fokuslah pada apa yang bisa kita upayakan, jangan fokus kepada hal-hal yang diluar kemampuan kita, karena menentukan siapa dan kapan jodoh kita, adalah HAK Allah semata. Dan tahukah kau, dulu aku pernah berharap mendapatkan seseorang yang mau menemaniku di kota kelahiranku, dan memiliki kemampuan berwiraswasta yang mumpuni, selain sholeh dan giat berdakwah tentunya.
Dan Subhanallah, ternyata sosok seperti itu akhirnya dihadirkanNya di hadapanku. Dan dia, ya Allah, laki-laki itu begitu ikhlas menerimaku... sesuatu yang aku yakin, Jika Kau sudah memudahkannya, maka tak ada satupun yang bisa menyulitkannya. Dan nanti ya Allah, jika aku kehilangan apapun yang aku sukai, apapun yang aku sayangi, dan apapun milikMu yang Kau titipkan padaku, aku yakin Kau telah menyiapkan ganti yang lebih baik, dan rencanaMu ya Allah, adalah rencana yang terindah, skenario mengagumkan yang hanya akan terlihat indah, pada mereka yang berkhusnudzon pada setiap ketetapanMu... "Duhai Tuhanku, karuniakan padaku ilham agar aku selalu mensyukuri .... nikmat-Mu yang Kau anugrahkan padaku dan kepada kedua orang tuaku, ... dan agar aku selalu beramal shaleh yang Kau ridhai. Dengan rahmat-Mu ... masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh." (An-Naml/27:19).
Kesimpulan:
Selalulah berkhusnudzon dengan ketetapan Allah,

NB : Materi atau Artikel diatas di ambil dari berbagai sumber ( lupa juga nggak mencatatnya karena sudah lama tersimpat di Komputer saya )  

Ok sobat sekian dulu postingan dari saya semoga postingan di atas bermanfaat untuk kita semua , bilamana ada sesuatu yang mau di sampaikan silahkan tinggalkan komentar kalian dibawah .Terima kasih